Archive for the ‘Uncategorized’ Category
Orientalis dan AI- The New Orientalist
Adakah berlaku pertembungan naratif antara para sejarawan lokal dan idea-idea dari AI? Ya.
Dalam definisi klasik (abad 17-19), orientalis adalah akademics Europe yang mengkhususkan diri dalam bahasa, sastra, sejarah, hukum, dan budaya masyarakat Timur, terutama dunia Islam, Asia Selatan, dan Asia Timur.
Jadi intepretasi kepada keadaan adalah berdasarkan value and nilai yang berbeza.
Edward Said dalam buku Orientalism 1978, explained that, bagaimana pengetahuan tidak pernah hadir dalam ruang hampa yang “murni” atau “objektif.”
Conthonya buku teks.
1. Pengetahuan sebagai Instrumen Kekuasaan
Said meminjam konsep Diskursus (Discourse) dari Michel Foucault. Intinya: untuk menguasai suatu wilayah, penjajah harus “mendefinisikan” wilayah tersebut terlebih dahulu. Orientalis menciptakan narasi bahwa Timur itu statis, eksotis, dan tidak rasional, sementara Barat itu dinamis, rasional, dan maju.
- Logikanya: Jika Timur dianggap “tidak mampu mengatur diri sendiri,” maka kolonisasi menjadi terlihat seperti misi penyelamatan yang moralis.
2. Konstruksi “Liyan” (The Other)
Orientalisme menciptakan pemisahan biner (binary) antara “Kita” (Barat) dan “Mereka” (Timur). Dengan menggambarkan Timur sebagai sesuatu yang asing dan inferior, identitas Barat justru diperkuat sebagai standar peradaban yang superior.
3. Colonial bridge
Banyak orientalis klasik pada abad ke-19 sebenarnya bekerja untuk ofis dan inteligent agency kementerian luar negeri atau perusahaan dagang (seperti VOC atau EIC). Data yang mereka kumpulkan tentang bahasa, adat, dan agama bukan sekadar untuk ilmu pengetahuan, melainkan peta jalan bagi administrasi kolonial untuk control populasi lokal. ( controlling through idea dan adat resam)
“Kekuasaan ada di mana-mana; bukan karena ia mencakup segalanya, tetapi karena ia datang dari mana-mana.” — Michel Foucault. Pervasive and unhinged.
…
The New Orienalist
Konsep “Orientalis” yang dulu kita bahas sebagai sarjana yang mempelajari Timur dari perspektif Barat, kini telah berevolusi secara signifikan di era kecerdasan buatan (AI). Orientalis tidak lagi selalu berwujud manusia, tetapi juga menjelma menjadi algoritma, data pelatihan (training data), dan model AI yang secara tidak sadar mewarisi dan bahkan memperkuat bias-bias masa lalu
Di era AI, cara pandang orientalisme tidak lagi hanya dihasilkan oleh sarjana atau penjelajah Eropa, tetapi dikodekan ke dalam sistem teknologi. Ini disebut sebagai “Orientalisme Algoritmik” atau “Visual Orientalism”
Mereka mempelajari pola dari miliaran gambar di internet—yang sebagian besar merupakan data dari budaya Barat—dan secara statistik mereproduksi pola-pola tersebut.
lebih penting, ia menguatkan idea sterotyping kerana algoritma yang dihasilkan ada sama. Same reproduction of idea from a same source.
Bias and relentless stereotyping or imprinting idea,
Penyebab utamanya adalah dominasi data berbahasa Inggris dan konsentrasi pengembangan AI di perusahaan teknologi Barat.
Model AI dilatih dengan kumpulan data raksasa (seperti LAION-400M) yang secara tidak proporsional mewakili konten dari AS dan Eropa, serta penuh dengan gambar-gambar yang dikumpulkan dari era kolonial
cerminan dari struktur kekuasaan geopolitik yang tertanam dalam infrastruktur data
Jika kita tidak kritis, narasi sejarah yang bias akan terus direproduksi, bukan oleh sejarawan, tetapi oleh mesin yang dianggap “netral”.
Kena baca
Zhao, Z., & Liu, Y. (2025). Visual Orientalism in the AI Era: From West-East Binaries to English-Language Centrism. arXiv preprint arXiv:2511.22931.https://arxiv.org/abs/2511.22931
Dahman, A., & Saou, H. (2025). Algorithmic Orientalism: A Systems Analysis of Anti-Muslim Bias in Artificial Intelligence. Journal of Islamic Sciences and Civilization, 10(2), 13-28
Varghese, J. K., & Rani, P. (2024). Digital Orientalism in Machine Vision: A Cross-Platform Analysis of AI-Generated Representations of Indian Culture. Russian Sociological Review, 23(4), 113-139
Wang, Z., & Ji, C. (2025). Algorithmic Orientalism and Its Neurocognitive Correlates: Affective Bias and Stereotype Processing Revealed by Affective Computing and EEG. GBP Proceedings Series, 13, 287-294.
Pomianowska, L. (2025). Orient in the Cloud. Art as an Affective Instrument of Algorithmic Decolonization. Arts & Cultural Studies Review (First View), (4 (66)).
AI Sovereignty
“Who controls the present control the past. Who controls the past controls the future,” is a famous quote from Orwell 1984
…
…
“Ilmu kolonial merujuk kepada kerangka
pengetahuan yang dibangunkan oleh kuasa
penjajah untuk memahami, mengkategorikan, dan
mengawal wilayah jajahan serta penduduknya.
Ia bukan sekadar satu bentuk ilmu yang objektif,
tetapi merupakan wacana yang berpaksikan kepada
ideologi dominasi, hierarki ras, dan penafian
terhadap sistem pengetahuan tempatan. Disiplin
seperti etnografi, antropologi, arkeologi, linguistik
dan geografi telah digunakan untuk membentuk imej
masyarakat bukan-Barat sebagai “lain” (the other),
sekali gus merasionalisasikan penjajahan atas nama
kemajuan dan pencerahan.”
Kajian tempatan menunjukkan bahawa institusi muzium di Malaysia
masih terperangkap dalam struktur epistemologi
kolonial, dan memerlukan transformasi yang
berakar kepada falsafah tempatan.
….
Dalam konteks Dunia Islam dan Alam Melayu,
dekolonisasi muzium mempunyai implikasi yang
besar. Dunia Islam memiliki warisan epistemik
tersendiri seperti fiqh, adab, dan falsafah ilmu yang
boleh menjadi alternatif terhadap pendekatan Barat.
Proses dekolonisasi di Alam Melayu menuntut
pengiktirafan terhadap ilmu Islam, manuskrip Jawi,
sejarah ulama dan naratif tempatan yang selama ini
disenyapkan atau dimanipulasi
Excerpt from the Journal
The new Orientalist threat
“As is well known, generative artificial intelligence learns from vast amounts of existing data to produce new texts. Consequently, the information generated by AI is inevitably shaped by the existing data, which functions as a form of memory. This phenomenon also applies to Orientalism. Since a comprehensive body of Orientalist literature has been constructed over nearly two centuries, generative AI – when producing new content about the East – replicates and perpetuates the same historical memory. As a result, new AI technologies reinforce and disseminate the Orientalist discourse, further embedding its style and perspectives into contemporary knowledge production. “
…..
Edward Said defines Orientalism not as neutral scholarship about the East but as a system of representation through which the West produces knowledge and authority over it. In Orientalism (1979), Edward Said argues that the East is not allowed to speak for itself; rather, it is spoken for, interpreted and defined by Western writers, scholars and institutions. Drawing on Antonio Gramsci’s concept of cultural hegemony, Said shows how Orientalism becomes a dominant framework that shapes academia, literature, politics and culture, making alternative representations difficult to sustain.
This hegemonic structure persists in generative artificial intelligence. Because AI systems are trained on vast historical datasets, they inherit and reproduce existing representational patterns. A recent study on text-to-image models in South Asia found that AI misrepresents cultural elements, reinforces hegemonic assumptions and reproduces stereotypes. Western and white perspectives often function as global defaults, while India becomes the default for representing Bangladesh and Pakistan, erasing distinct identities. AI-generated images frequently depict South Asia as impoverished, exotic and frozen in time. Thus, AI does not create new biases but amplifies entrenched Orientalist narratives embedded in its training data.